Kenapa sih Astro mesti mengecewakan para pelanggannya?? Padahal kita2 udah sreg lho, anak2 juga jd sedih begitu liat dilayar hanya ada ucapan permintaan maaf, mereka tanya sd kapan ma?? Wah, belum tentu akan siaran lagi nak... Duh, kecewanya mereka... Kenapa astro, kenapa??? Klo begini, mau ga mau harus berpling ke lain kabel tv dwong...
Jakarta - Keputusan Astro All Asia Networks Plc (AAAN) memutuskan kerjasama dengan PT Direct Vision (DV) adalah puncak kekesalan AAAN terhadap grup Lippo yang menjadi mitra untuk operator televisi berbayar Astro TV.Selama ini AAAN terus menerus memasok muatan atau isi siaran untuk Astro TV. Namun balasannya AAAN tak mendapat bayaran tagihan untuk content dan yang lebih mengecewakan AAAN juga tak mendapat saham secuilpun dari Lippo Group."Astro telah memberikan dukungan kepada PT DV sejak Februari 2006 dengan keyakinan bahwa segala rencana yang dibutuhkan agar pihaknya dapat berinvestasi di PT DV dapat segera dirampungkan," kata kuasa hukum Astro Todung Mulya Lubis dalam siaran pers dari AAAN, Senin (20/10/2008). "Namun, karena telah lebih dari dua tahun dan tidak ada indikasi bahwa rencana tersebut akan rampung atau bahwa Astro akan menerima pembayaran atas segala dukungan dan layanan yang telah diberikannya, maka Dewan Direksi Astro tidak punya pilihan lain selain menghentikan layanan Astro kepada PT DV," lanjut Todung.Menurut Todung, Astro tidak pernah menerima kompensasi atas dukungan dan layanan yang telah diberikannya kepada PT DV yang berjumlah sekitar Rp 2,5 triliun.Todung menambahkan tidak pernah ada usaha dari Grup Lippo untuk mencari penyelesaian alternatif yang dapat diterima bersama atas rencana joint venture. Astro juga bukan dan tidak pernah menjadi pemegang saham PT DV."Situasi ini sudah jelas tidak dapat dibiarkan terus berlanjut," kata Todung. Situasi ini timbul, kata Todung, murni karena pertentangan komersil antara Astro dan Grup Lippo sehubungan dengan tidak rampungnya rencana joint venture antara pihak-pihak yang terlibat di PT DV. "Walaupun bukan pemegang saham di PT DV dan tidak pernah menerima pembayaran atas dukungan dan layanannya kepada PT DV, Astro telah berusaha untuk mencari penyelesaian dengan jalan damai sambil terus memberikan dukungan terhadap kegiatan operasional PT DV untuk melindungi hak-hak para pelanggan PT DV," jelas Todung.AAAN mengumumkan bahwa mulai pukul 00.01 WIB hari ini pihaknya tidak lagi menyalurkan layanan siaran, layanan informasi dan teknologi, penyewaan peralatan penerimaan satelit dan layanan pasokan channel kepada DV. Astro sebelumnya telah memperpanjang waktu yang dibutuhkan oleh PT DV untuk menyelesaikan pembayarannya kepada Astro dan terus menggunakan nama "Astro" sesuai Trademark License Agreement hingga 30 September 2008, dan kemudian diperpanjang lagi hingga 19 Oktober 2008.Direct Vision semula adalah perusahaan patungan antara Lippo Group dan Astro Malaysia yang dibentuk awal 2005. Lippo Group melalui Ayunda Prima Mitra--anak usaha PT First Media tbk-- memiliki 49% saham Direct Vision dan sisanya dimiliki AAAN.Namun dalam perjalannya AAAN yang dimiliki konglomerat Malaysia Ananda Krishnan dan grup Lippo bersilang sengketa mengenai kepemilikan sahamnya. Lippo tidak memberikan jumlah saham sesuai kesepakatan awal.Lippo tetap meminta bayaran saham US$ 250 juta, dan menolak membayar tagihan ke AAAN senilai RM 805 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun. Tagihan itu adalah biaya operasional Direct Vision, sejak tiga tahun lalu sampai 1 September 2008.Buntut kisruh dengan Lippo Group, pihak AAN juga mengugat beberapa perusahaan milik Lippo Group ke pengadilan Arbitrase di Singapura atau Singapore Arbitration Centre.Astro menggugat Lippo senilai RM 905 juta atau sekitar Rp 2,46 triliun sebagai kompensasi keuangan sehubungan gagalnya Kesepakatan Berlangganan dan Kepemilikan Saham (KBKS).Saat ini pemegang saham DV adalah Ayunda Prima Mitra -anak usaha PT First Media tbk-- yang memiliki saham sebesar 49% dan Silver Concorde Holding Limited 51%, keduanya merupakan entitas perusahan milik Lippo group.(ir/qom)
Senin, 20/10/2008 11:56 WIB
Siaran Keburu Mati, Direct Vision Batal Dapat UntungSuhendra - detikFinance
(Foto: Astro)
Jakarta - Nasib PT Direct Vision sebagai operator televisi berlangganan Astro TV benar-benar apes. Belum lagi menuai untung di bisnis TV berlangganan, siaran perusahaan keburu dimatikan pemasoknya Astro All Asia Networks Plc (AAAN).Astro TV Indonesia baru mengudara selama 2 tahun 7 bulan 19 hari sejak resmi diluncurkan tahun 2005. Selama dua tahun terakhir, manajemen Direct Vision mengaku baru dalam tahap penjajakan pasar."Untuk tahap bisa sampai untung butuh waktu empat tahun sejak berdiri, jadi masih dua tahun lagi untuk mendapat untung," kata Senior Corporate Affair PT Direct Vision, Halim Mahfudz dalam jumpa pers di gedung Citra Graha, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (20/10/2008).Halim menolak menyebutkan berapa investasi yang telah dikeluarkan Direct Vision selama hampir tiga tahun terakhir. "Yang pasti jumlahnya mencapai ratusan juta dolar," ujar Halim.Manajemen Direct Vision hingga kini belum bisa memastikan kelanjutan bisnisnya karena masih menunggu proses dari pemegang saham."Minggu ini kita harapkan sudah ada arahan dari share holder untuk menentukan langkah selanjutnya," kata CEO Direct Vision Nelia C Mulato. Astro All Asia Networks Plc (AAAN), yang selama ini menjadi pemasok siaran Astro TV, secara resmi memutuskan pasokan siaran sejak pukul 00.00 Senin 20 Oktober 2008.Direct Vision semula adalah perusahaan patungan antara Lippo Group dan Astro Malaysia yang dibentuk awal 2005. Lippo Group melalui Ayunda Prima Mitra--anak usaha PT First Media tbk-- memiliki 49% saham Direct Vision dan sisanya dimiliki AAAN.Namun dalam perjalanannya AAAN yang dimiliki konglomerat Malaysia Ananda Krishnan bersilang sengketa dengan grup Lippo mengenai kepemilikan sahamnya. Lippo tidak memberikan jumlah saham sesuai kesepakatan awal.Lippo tetap meminta bayaran saham US$ 250 juta, dan menolak membayar tagihan ke AAAN senilai RM 805 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun. Tagihan itu adalah biaya operasional Direct Vision, sejak tiga tahun lalu sampai 1 September 2008.Karena ribut masalah kepemilikan saham dan tagihan ini, akhirnya AAAN memutuskan perjanjian berkhir 31 Agustus 2008 dan memberikan kelonggaran ke Astro TV hingga 30 September 2008.Namun AAAN akhirnya memberikan kelonggaran ketiga hingga 19 Oktober 2008 dan terbukti mulai 20 Oktober, siaran Astro TV mati total.(ir/qom)
Jumat, Oktober 24, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar